Rabu, 23 Januari 2013

permasalahan agama di saat ini


Palestina Vs Israel: Benarkah Konflik Agama?

Charles Honoris - detikNews
Jakarta - Agresi militer Israel terhadap Gaza yang telah memakan ratusan korban jiwa diprotes di berbagai penjuru dunia. Reaksi yang wajar karena apa yang dilakukan Israel luar biasa biadab.

Di Indonesia, beberapa ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Umat Islam (FUI) melancarkan demonstrasi di beberapa kota besar di Indonesia.

Hari Jumat kemarin, misalnya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dikerubungi ratusan massa FPI yang melakukan aksi demo menentang agresi militer Israel terhadap Gaza.

Banyak dari demonstran pendemo Israel membawa spanduk, antara lain: "Kami siap menjemput Syahid di Gaza" atau "Yahudi Laknatullah". Bahkan, pernah diberitakan bahwa beberapa ormas Islam siap mengirimkan mujahidin ke Palestina.

Melihat gencarnya demonstrasi yang dilakukan oleh ormas-ormas Islam, sepintas memang konflik Palestina seakan-akan seperti konflik antar agama. Khususnya antara agama Islam, Yahudi dan Kristen. Apalagi wilayah konflik mencakup Yerusalem yang dianggap kota suci bagi ketiga agama tersebut.

Tapi benarkah konflik Palestina merupakan konflik antar agama? Apakah ini bukan konflik politik --seperti halnya dengan bangsa Indonesia sebelum merdeka--, bangsa Palestina sedang berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai sebuah bangsa yang merdeka?

Bukan Konflik Agama

Dalam kunjungannya pertama kali ke Jakarta di tahun 1984, almarhum Yassir Arafat mengatakan bahwa perjuangan Palestina adalah untuk "mendirikan negara Palestina yang demokratis" bagi seluruh "orang Palestina yang beragama Kristen, Yahudi dan Islam dapat hidup dengan baik dan memiliki kewajiban yang sama sebagai warga negara".

Karena pada hakekatnya masyarakat Palestina adalah masyarakat yang plural.

Perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina pun melibatkan banyak tokoh-tokoh Palestina yang bukan beragama Islam.

Beberapa dari mereka pun terlibat dalam aksi-aksi terorisme terhadap warga sipil. Wadi Haddad, misalnya, adalah orang Palestina beragama Kristen yang merupakan mastermind dari kelompok Black September.

Salah satu aksi yang paling dikenal dari kelompok tersebut adalah aksi penculikan dan pembunuhan terhadap 11 atlet Olimpiade Israel di Munich, Jerman pada tahun 1972.

Ada juga George Habash, mantan pemimpin organisasi PFLP (Front Rakyat Pembebasan Palestina) yang dicap oleh media Israel dan media barat sebagai organisasi radikal. George Habash dan PFLP pernah terlibat dalam beberapa pembajakan dan peledakan beberapa pesawat terbang sipil

Dalam dunia politik, banyak warga Palestina non-Muslim juga memiliki andil dalam perjuangan bangsa Palestina. Salah satu wajah Palestina yang paling dikenal di dunia internasional adalah perempuan Kristen Palestina bernama Hanan Ashrawi.

Selain menjadi legislator di parlemen Palestina, Hanan Ashrawi selama beberapa tahun sempat menjadi juru bicara delegasi Palestina dalam perundingan perdamaian. Ayah Hanan, Daoud Mikhail, adalah salah seorang yang ikut membidani lahirnya PLO (Organsisasi Pembebasan Palestina).

Jadi, anggapan bahwa perjuangan Palestina itu milik umat Muslim semata tidaklah benar. Apalagi jumlah warga Palestina beragama Kristen maupun Yahudi tidak sedikit.

Beberapa posisi pemerintahan seperti walikota Betlehem dan Menteri Pariwisata Palestina selalu diduduki oleh politisi Kristen.

Bahkan, sudah merupakan tradisi yang dipelihara bertahun-tahun bahwa Presiden Palestina menghadiri perayaan Natal di Betlehem setiap tahunnya untuk menghormati komunitas Kristen di Palestina.

Konfik Palestina Masalah Politik

Adalah sebuah fakta bahwa kondisi yang dialami masyarakat Palestina, khususnya dengan serangan Israel atas Gaza, sangat mengenaskan. Pendudukan Israel atas Palestina yang sudah berlangsung selama puluhan tahun telah menyengsarakan jutaan rakyat Palestina.

Pendudukan dan blokade yang dilakukan Israel atas Gaza, misalnya, mengakibatkan kemiskinan yang luar biasa bagi warga Gaza.

Tingkat pengagguran di Jalur Gaza mencapai angka lebih dari 50%. Maka, tidak heran jika mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter menyatakan bahwa pendudukan Israel atas Palestina tidak bedanya dengan kebijakan rasis Apartheid yang pernah dianut oleh pemerintah Afrika Selatan.

Namun, semua pihak juga harus berhati-hati agar konflik Palestina ini tidak digunakan untuk membangkitkan sentimen agama, apalagi jika digunakan untuk kepentingan politik kelompok tertentu.

Konflik Palestina adalah masalah politik yang harus diselesaikan melalui jalur politik dengan menggunakan koridor-koridor yang ada seperti hukum internasional, diplomasi dan organisasi-organisasi internasional.

Masyarakat umum bisa memberi tekanan kepada pemerintahnya masing-masing untuk berperan lebih aktif dalam mengupayakan perdamaian di Timur Tengah.

Memang jika diplomasi gagal dan perang tidak bisa dihindari, masyarakat dunia harus berteriak lebih kencang, agar dunia internasional di bawah bendera PBB bisa secepatnya mengirimkan Pasukan Perdamaian untuk melakukan intervensi kemanusiaan, seperti halnya yang pernah dilakukan di Lebanon dan beberapa negara Afrika.

Sudah sewajarnya, Indonesia sebagai bangsa yang mencintai kemerdekaan --termasuk hak rakyat Palestina untuk berdaulat di atas tanah airnya--, siap mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina.

Perjuangan bangsa Palestina sudah selayaknya mendapat dukungan. Namun perjuangan mendukung hak bangsa Palestina harus menghindari kepentingan kelompok-kelompok teroris seperti Al-Qaidah dan Jamaah Islamiyah yang kerap membajak dan menunggangi masalah Palestina untuk membenarkan tindakan-tindakan mereka.

Tindakan-tindakan semacam itu akan berakibat kontra-produktif bagi perjuangan rakyat Palestina yang memiliki harapan untuk menjadi bangsa yang berdaulat di tanahnya sendiri.

Mungkin benar kata Gus Dur: "Konflik Palestina itu soal wilayah atau kawasan, yang kemudian diangkat menjadi soal agama. Isu agama itu dipaksakan oleh kelompok-kelompok tertentu."

Bagaimana pendapat Anda? Charles Honoris, alumnus Department of Political Science and Law International Christian University, Tokyo Japan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar